Kesehatan Jiwa Remaja di Indonesia
Dalam akhir akhir ini masyarakat Indonesia dihadapkan dengan pemberitaan gencar perilaku remaja laki-laki berinisial RJ yang mengancam akan membunuh Presiden Joko widodo melalui video berdurasi 19 detik. Video tersebut viral dan menampilkan RJ yang bertelanjang dada mengeluarkan kata-kata kasar sambil menunjuk foto Presiden Joko Widodo.
Aksi ini menunjukkan perilaku agresif mengancam dan tanpa rasa hormat terhadap pemimpin negara Republik Indonesia. Tidak sedikit masyarakat yang berpendapat bahwa seharusnya ia sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa tindakannya tersebut melanggar norma kepantasan dan berisiko membahayakan dirinya secara hukum. Namun sepertinya RJ tidak berpikir sejauh itu pada saat merekam dan mengunggah video tersebut.
Banyak sekali tantangan viral yang membahayakan remaja
Menurut Erik Erikson, pada usia 11 tahun sampai dengan akhir remaja, seseorang berada dalam tahapan identitas vs difusi peran. Kelompok usia ini identik dengan identitas ego, disibukkan dengan penampilan, dan memuja pahlawan. Identitas kelompok (teman sebaya) juga sedang berkembang.
Telah banyak juga perilaku self-harm remaja yang merupakan perilaku akibat tantangan tidak sehat yang terjadi di internet, misalnyaeraser challenge (menghapus dengan hapusan pensil secara cepat dan keras pada kulit), choking game (mencekik leher sampai tak sadarkan diri), skip/knockout challenge(menekan dada sampai tidak sadarkan diri),sack tapping (memukul bagian kemaluan laki-laki dengan keras), dan lain-lain
Perilaku remaja juga dipengaruhi oleh perilaku teman sebayanya
Bangsa Indonesia tertantang untuk mengidentifikasi masalah kesehatan jiwa pada remaja sebelum berdampak pada masalah kesehatan remaja yang lebih besar bahkan kematian. Berbagai studi tentang remaja yang berperilaku risk-taking menjadi perhatian sejak tahun 1980 dan berhasil membuktikan bahwa mayoritas morbiditas dan mortalitas pada dekade kedua kehidupan seseorang disebabkan oleh perilaku risk-taking.
Istilah perilaku risk-taking telah digunakan untuk menghubungkan secara konseptual sejumlah potensi perilaku yang merusak kesehatan termasuk penyalahgunaan zat, perilaku seks bebas, mengendarai mobil dengan ceroboh, perilaku ingin bunuh diri (bahkan membunuh), dan kenakalan remaja. Jika perilaku ini dibiarkan maka akan berdampak pada masalah kesehatan yang serius saat dewasa
Ternyata problem perilaku yang dominan terjadi pada pelajar di SMA
Problem perilaku adalah perilaku yang berulang dan persisten pada remaja yang mengabaikan hak orang lain atau peraturan sosial. Bisa terjadi di rumah, di sekolah, atau kondisi sosial lainnya. Juga bisa agresif seperti mengancam orang lain, bahkan binatang. Termasuk juga di dalamnya adalah mencuri, bolos, dan lain-lai
Faktor-faktor psikososial berkontribusi terhadap problem perilaku pada remaja, misalnya level pendidikan, urbanisasi, akses terhadap pelayanan kesehatan, pengetahuan orang tua tentang kesehatan jiwa, yang kesemuanya dapat memicu problem emosional dan problem perilaku pada remaja urban.
Kita menanti rencana pemerintah –melalui Direktorat P2MKJN Kementerian Kesehatan, yang telah mengagendakan penyusunan Nota Kesepahaman dengan pihak Kementerian Pendidikan Nasional tentang Kesehatan Jiwa Remaja untuk masa depan generasi penerus Indonesia.
Selain dilakukan screeningkesehatan jiwa remaja secara berkala, semoga juga ditindaklanjuti dengan upaya intervensi yang sesuai untuk kondisi Indonesia.
Sumber: https://www.idntimes.com/opinion/social/amp/nova-riyanti-yusuf/mengulik-kesehatan-jiwa-remaja-di-indonesia
Bangsa Indonesia tertantang untuk mengidentifikasi masalah kesehatan jiwa pada remaja sebelum berdampak pada masalah kesehatan remaja yang lebih besar bahkan kematian. Berbagai studi tentang remaja yang berperilaku risk-taking menjadi perhatian sejak tahun 1980 dan berhasil membuktikan bahwa mayoritas morbiditas dan mortalitas pada dekade kedua kehidupan seseorang disebabkan oleh perilaku risk-taking.
Istilah perilaku risk-taking telah digunakan untuk menghubungkan secara konseptual sejumlah potensi perilaku yang merusak kesehatan termasuk penyalahgunaan zat, perilaku seks bebas, mengendarai mobil dengan ceroboh, perilaku ingin bunuh diri (bahkan membunuh), dan kenakalan remaja. Jika perilaku ini dibiarkan maka akan berdampak pada masalah kesehatan yang serius saat dewasa
Ternyata problem perilaku yang dominan terjadi pada pelajar di SMA
Problem perilaku adalah perilaku yang berulang dan persisten pada remaja yang mengabaikan hak orang lain atau peraturan sosial. Bisa terjadi di rumah, di sekolah, atau kondisi sosial lainnya. Juga bisa agresif seperti mengancam orang lain, bahkan binatang. Termasuk juga di dalamnya adalah mencuri, bolos, dan lain-lai
Faktor-faktor psikososial berkontribusi terhadap problem perilaku pada remaja, misalnya level pendidikan, urbanisasi, akses terhadap pelayanan kesehatan, pengetahuan orang tua tentang kesehatan jiwa, yang kesemuanya dapat memicu problem emosional dan problem perilaku pada remaja urban.
Kita menanti rencana pemerintah –melalui Direktorat P2MKJN Kementerian Kesehatan, yang telah mengagendakan penyusunan Nota Kesepahaman dengan pihak Kementerian Pendidikan Nasional tentang Kesehatan Jiwa Remaja untuk masa depan generasi penerus Indonesia.
Selain dilakukan screeningkesehatan jiwa remaja secara berkala, semoga juga ditindaklanjuti dengan upaya intervensi yang sesuai untuk kondisi Indonesia.
Sumber: https://www.idntimes.com/opinion/social/amp/nova-riyanti-yusuf/mengulik-kesehatan-jiwa-remaja-di-indonesia




